Survei Identifikasi 203 Gejala Long Covid, Ada Kuping Berdenging

Survei terbaru yang dilakukan di tim peneliti di Inggris mengidentifikasi hingga 203 sindrom long covid. Yang paling banyak dilaporkan atau ditemukan adalah mudah lelah, post-exertional malaise (di mana kondisi kesehatan seseorang memburuk setelah mengalami tekanan fisik atau mental), brain fog (linglung, tak bisa konsentrasi).

Riset sebelumnya hanya menyebut cepat lelah sebagai gejala yang paling umum di antara orang-orang dengan long covid. Survei terbaru memunculkan banyak gejala lain seperti halusinasi visual, tremor, kulit gatal, perubahan siklus menstruasi, disfungsi seksual, palpitasi detak jantung, masalah kontrol kandung kemih, herpes, hilang ingatan, pandangan kabur, diare, dan telinga berdenging.

Gejala tersebar seluruhnya di sepuluh organ tubuh dengan sepertiga jumlah gejala itu terdata bertahan hingga setidaknya selama enam bulan. Lebih dari separuh responden masih bisa merasakan rata-rata 13,8 dari total 66 gejala yang teridentifikasi masih bertahan pada bulan ketujuh.

Survei dilakukan terhadap 3.762 orang yang telah terkonfirmasi ataupun disangka (suspected) long covid dari 56 negara. Hasil studi dari survei itu dipublikasikan dalam jurnal EClinicalMedicine edisi 15 Juli 2021. Judulnya, ‘Characterizing long Covid in an international cohort: 7 months of symptoms and their Impact.’

“Banyak sekali pemeriksaan post-covid di Inggris berfokus pada rehabilitasi saluran pernapasan. Memang benar banyak orang mengalami sesak napas, tapi mereka juga memiliki banyak problem dan tipe gejala lain yang mana klinik-klinik harus menyediakan pendekatan yang lebih holistik terhadapnya,” kata Athena Akrami, ahli saraf dari University College London, Inggris, yang juga anggota tim peneliti dalam survei itu.

Akrami mengaku dirinya sendiri merasakan gejala hingga 16 bulan sejak terkonfirmasi positif Covid-19 dan menduga, ada puluhan ribu pasien long covid yang menderita tapi diam saja. “Mereka merasa tidak pasti apakah gejala-gejala yang mereka alami itu masih terkait dengan Covid-19 atau tidak,” katanya.

Sekitar 22 persen dari partisipan dalam survei dilaporkan tak lagi mampu bekerja –dipecat, terpaksa cuti karena sakit atau disabilitas yang berkepanjangan, atau berhenti–karena kondisi kesehatannya. Dan 45 persen yang kini mengaku membutuhkan pengurangan beban kerja.

Terpisah dari survei oleh Akrami dkk, sebuah makalah yang dibuat tim peneliti di University of Birmingham mengungkapkan temuan bahwa mereka yang mengidap lebih dari lima gejala Covid-19 pada pekan pertamanya terinfeksi akan berisiko lebih besar mengembangkan gejala long covid. Dimuat di Journal of the Royal Society of Medicine, risiko itu disebutkan tak memandang usia ataupun gender pasien.

NEW SCIENTIST | GUARDIAN | THE LANCET

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.